<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Cerpen Archives - MTs N 7 Indramayu</title>
	<atom:link href="https://mtsn7indramayu.sch.id/category/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://mtsn7indramayu.sch.id/category/cerpen/</link>
	<description>Madrasah Tsanawiyah Negeri 7 Indramayu</description>
	<lastBuildDate>Thu, 16 Nov 2023 03:12:34 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/08/cropped-cropped-1kemenag-32x32.png</url>
	<title>Cerpen Archives - MTs N 7 Indramayu</title>
	<link>https://mtsn7indramayu.sch.id/category/cerpen/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Jari Merah Tergigit Basah</title>
		<link>https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/09/02/jari-merah-tergigit-basah/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2021 01:03:34 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mtsn7indramayu.sch.id/?p=290</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kutulis kembali satu cerita perjuangan yang tertunda disaat usiaku 28 tahun. Alur cerita perjuangan seorang anak santri dan</p>
<p>The post <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/09/02/jari-merah-tergigit-basah/">Jari Merah Tergigit Basah</a> appeared first on <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id">MTs N 7 Indramayu</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p></p>



<p>Kutulis kembali satu cerita perjuangan yang tertunda disaat usiaku 28 tahun. Alur cerita perjuangan seorang anak santri dan guru ngaji kampung&nbsp;&nbsp;yang hanya bermodalkan sedikit pengalaman dan selembar ijazah sarjana Syari’ah. Perjuangan seorang tenaga guru honorer&nbsp;&nbsp;SLTA swasta di bilangan Kota Mangga tempat kelahiranku. Perjuangan seorang anak kiai desa yang sedikit tahu ilmu agama, perjuangan dan cita-cita&nbsp;&nbsp;mengubah wajah desaku tercinta.&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Sepulang dari tugas rutinku mengajar Rabu sore, Mas Made rupanya sudah lama menungguku di rumah,&nbsp;&nbsp;“Mang Ade, ini ada surat dari Pak Letkol TNI.” Katanya sambil menyodorkan surat untukku, selebihnya berada digenggaman tangan kirinya. Made adalah preman terhormat dari salah satu saudara sepupuku. Kata sandang Mang, sudah tenar di jagat kelahiranku Tegalurung Balongan Indramayu. Mungkin hanya sedikit yang tahu kalau namaku Samsul Hadi. Kubaca surat itu buru-buru, “Mas, selain aku siapa lagi yang dapat surat dari pak Wirayudi?” tanyaku penasaran. “Kepala desa, Ketua MUI desa, tokoh masyarakat, dan pengurus inti Karang Taruna serta IRMA 4 desa.” Jawabnya dengan rinci. Mas Made adalah orang baru kaki tangnnya Pak Wirayudi. Maka kesempatan untukku&nbsp;&nbsp;mengorek info darinya. “Mas, inti dari surat ini mengundang kami hadir pada Kamis sore syukuran rumah makan California yang mewah dan megah itu.”&nbsp;&nbsp;Jelasku untuk memulai penyelidikan. “Betul, Mang&#8230;.” Jawabnya singkat. “Trus apa betul kata warga bahwa tempat tersebut desainnya mirip tempat ajojing bagi pendatang yang haus dan lapar?” desakku dengan bahasa ungkapan yang tentunya&nbsp;&nbsp;dia maklum. “Kalau betul, berarti desa kami akan memiliki tempat maksiat yang selama ini tidak disukai warga doong.” korekku terus mendesak penasaran. Mas Made hanya terdiam kebingungan, sepertinya ada sesuatu yang disembunyikannya. “Hhmm&#8230; kalau soal itu saya kurang tahu, Mang.” Jawabnya dengan wajah&nbsp;&nbsp;dan tingkah yang gugup sambil sesekali melirik surat yang dia genggam.&nbsp;&nbsp;Kumengerti dibalik salah tingkahnya itu. Maka, aku sudahi seolah tiada masalah. “Ya sudah Mas, terima kasih banyak, In Sya Allah saya usahakan hadir.” Jelasku agar dia kembali santai. “Jangan lupa, Mang!” ucapnya sambil menyodorkan tangan kanannya, salaman lantas berpamitan.</p>



<p>Pertanyaan yang kuajukan kepada Mas Made, sebenarnya hanya mau menggali info terupdate tentang rumah makan atau ada plusnya.&nbsp;&nbsp;Aku sebagai Ketua Karang Taruna</p>



<p>sekretaris FKKT, sie. Pendidikan IRMAS, dan sie. dakwah BKPRMI sudah melangkah sebelumnya dengan melobi aparat terkait dan inten mengadakan pembahasan melalui rapat organisasi. Cara yang kami tempuh harus profesional melalui jalur lembaga dan&nbsp;&nbsp;kooperatif dengan pemilik Calyfornia berstatus TNI dengan pangkat Letkol dan aktif sebagai Kepala BP7 saat itu.</p>



<p>Langkah utama kami adalah mengetahui perizinan mendirikan bagunan dari desa, kecamatan, dan pemda. Juga Kepolisian terkait keamanan. Saya dan wakil ketua Karang Taruna Tunas Muda, ketua dan wakil ketua IRMAS Al-Muawwanah yang mewakili tugas itu, kami sengaja tidak melibatkan tokoh masyarakat dan ulama setempat terlibat jauh dalam masalah ini, cukuplah spirit, doa, dan nasihat terbaiknya saja. Wakil IRMAS dan Karang Taruna 3 desa pun kami ajak untuk berkoordinasi.&nbsp;&nbsp;Tidak hanya sekali kami datang menemui kepala desa, Babinsa, Babinmas,&nbsp;&nbsp;dan camat kami. Berjam-jam juga kami berdiskusi dengan para aparat. Yang kami lakukan cukup maksimal, namun hanya sebatas usaha sosial keagamaan agar pemilik California menutup usahanya,&nbsp;&nbsp;terkecuali diperuntukkan sebagi rumah makaan seperti yang tertera pada undangan&nbsp;&nbsp;itu.</p>



<p>“Pihak desa sudah berkoordinasi dengan camat, polsek, dan MUI, kalian tenang saja, dan teruskan usaha untuk meredam emosi warga melalui cara&nbsp;&nbsp;apapun!” pinta kepala desa kepada kami beberapa bulan terahir. Pernyataan itu aku anggap sebuah progres yang&nbsp;&nbsp;kami tunggu. “Tentang perizinan, itu tanggung jawab kami selaku aparat pemerintah.” Tambahnya. Beliau tidak secara eksplisit mengatakan ada atu tidaknya IMB, maka aku pun mendesak untuk mengetahuinya. Begitu juga ketika kami ke camat dengan pertanyaan yang sama. Dan karena keterbatasan wewenang kami dalam persoalan ini, kepercayaanlah jalan terahirnya. “Adek-adek, sudah saya katakan berkali-kali, kalian tenang saja yaa&#8230; kami sudah berkoordinasi dengan Bupati kalian, dan tanggapannya, agar para pemuda dari 4 desa bisa menahan diri,&nbsp;&nbsp;Jangan ikutan jadi orang gila seperti pemilik Calyfornia.” Jelas ucapan camat pada kami. Orang gila yang dia katakan pun tidak kami pahami apa mksudnya. “Saya percaya, yang nantinya singgah di tempat itu bukan warga setempat, melainkan orang dari daerah lain, saya yakin itu, karena saya tahu desa sekitar Calyfornia adalah daerah yang agamis.” papar camat seperti apa yang disampaikan bupati. Ucapan bupati kami anggap sikap cuci tangan dan kepasrahan. Mereka seakan tidak mau berurusan. Tapi kami&nbsp;&nbsp;kerepotan menangani gejolak pemuda dan warga. Tidak sedikit yang menyepelekan usaha kami, seolah&nbsp;&nbsp;tidak gigih. Dampak pertemuan kami dengan pejabat hanya menyisakan rasa takut jika ada mata-mata lapor pada pemilik rumah makan atas apa yang aku lakukan.</p>



<p>Kecemasan dan rasa takut itu terbukti, kami dincam oleh pak letkol. Beliau mengetahui semua gerak-gerik terselubung kami melaui salah seorang hipokrit pegawai kecamatan bernama Wawang, nama-nama kami pun beliau hapal, Samsul Hadi, Nasrullah dan Roni Samsul Bahri.</p>



<p>Ancaman ini datang ditujukan kepada kami, sehari setelah datang menghadiri undangan pada Kamis sore di rumah makan tersebut. Kami bertigalah yang paling dianggap vokal dan frontal pendapat dan usulannya. Memang sebelumnya strategi ditempat undangan itu sudah aku atur. Namun dalam koridor kooperatif dan mengedepankan moral. Rencana yang tersusun rapi, pada akhirnya berubah drastis 180 derajat. Bagimana tidak, setelah kami lihat keadaan, situasi, desain, dan lain-lain, ternyata tempat yang kumasuki adalah bukan sekedar rumah makan biasa namun sebuah diskotik. “Pernyataan&nbsp;&nbsp;yang bernada kecurigaan Dek Samsul sebagai utusan karang taruna adalah tidak benar, memang disini saya pasang lampu khusus, alat musik, dan saund karaoke adalah tambahan layaknya rumah makan agar para tamu yang datang terhibur dengan alunan musik menemani tamu yang datang.” Dan ini lumrah di tempat makan manapun.” papar pak letkol dibelakang podium indah dengan tujuan meyakinkan pada hadirin yang datang saat itu. “Kami tetap menghendaki agar tempat ini ditutup atau mengganti peruntukannya hanya sebagi restauran, dan kami atas nama pemuda siap membantu bapak dari segi keamanan atau lainnya yang bapak butuhkan.” Usul salah seorang hadirin. “Tentu saja tidak bisa dirubah, Pak, karena saya sudah membeli dan memasangnya.” bela pak Wirayadi dengan nada menaik. “Jangnkan hanya rumah makan dan plus, Pak, UUD ’45 saja bisa diamandemen atas nama rakyat.” sanggah Roni dengan nada tinggi. Pada ahirnya yang terlibat dalam perdebatan adalah para pemuda, ulama dan tokoh masyarakat. Aku berusaha meredam situasi sebisaku, “Saudara-saudara, saya juga sepakat ditutup&nbsp;&nbsp;jika tempat mewah ini adalah diskotik. Namun karena penjelasan dari pemiliknya bukan seperti yang kita tuduhkan, dan alsan beliau cukup rasional, maka sebaiknya kita adakan perjanjian khusus diatas kertas.” bujukku untuk meredam situasi yang makin panas.</p>



<p>Semakin sore siatusi semakin panas seakan tak dapat dikendalikan, hingga para undangan satu persatu wolkout. Dan tak ada satu pun yang mencicipi aneka hidangan mewah yang menggiurkan di meja panjang dengan sinar puluhan lilin dan kepulan uap es batu berbentuk patung indah ditambah warna-warni kupasan buah dibawah kaki merak es itu.</p>



<p>Pak Wirayudi adalah orang hebat, kuat, dan berani, dia tidak menghiraukan usulan perwakilan 4 desa, tetap kokoh&nbsp;&nbsp;pendiriannya untuk meneruskan acara launcing nanti malam dengan undangan para elit dan pengusaha berduit,&nbsp;&nbsp;juga tetap membuka tempat usahanya tanpa dihantui rasa takut apa-apa.</p>



<p>Akan tetapi dibalik sikap pemberaninya itu dia mengalami kerugian materi dan uang ratusan juta rupiah akibat kedatangan petugas polisi yang menutup tempat dan melarang launching malam itu. Jika tidak mengindahkan, maka aparat mengncam tidak bertanggung jawab bila terjadi suatu hal. Alasan pihak berwajib&nbsp;&nbsp;mengatasnamakan usul warga melalui pemuda dari unsur karang taruna dan IRMAS. Terutama desa pribumi. Berita heboh itu aku ketahui&nbsp;&nbsp;dari laporan Mas Made pada Jumat pagi.</p>



<p>“Mang, mulai hari ini harus waspada betul, terutama malam hari, tolooooong&#8230;jangan ada di rumah.” Tandasnya dengan serius. “Emang kenapa, Mas.” Tanyaku mendesak. “apa yang Pak Letkol katakan?” aku terus penasaran. “Pak letkol katakan seumur hudupku baru kali ini aku merasa dihinakan, digerilya oleh bocah-bocah ingusan!” makin takut dan panas saja kepala ini, ciut nyaliku mendengar ucapan Mas Made yang saya yakini tidak asal ceplos. “Truss apa lagi yang dia katakan?” desakku terus. “Tolong cari bocah itu, minimal 3 orang karang taruna itu!” makin takut saja aku dibuatnya. “Saya Berani taruhan dalam waktu singkat Potong&#8230;&#8230;&#8230;ku kalau tidak bisa meringkus 3 pemuda itu.” Jelas Mas Made yang juga tampak merasa kasihan pada kami. Yang dimaksud titik-titikku tadi adalah dia menyebut kemaluannya sendiri dihadapan Ms Made. “Memangnya kanapa saya harus kabur malam hari, Mas?” desakku pada mas Made. “Dia merekrut bodigar-bodigar dari Tugu dan Bedulan!” huuuuh&#8230;. bagai tersambar petir disiang bolong, ketakutanku makin menjadi-jadi. Siapa yang berani berurusan dengan bodigar Tugu dan Bedulan, mungkin sewilayah 3 cirebon tahu betul bagaiman bodigar dua desa itu, siapa yang tak gentar mendengar bodigar dengan julukan “SADIGO”&nbsp;&nbsp;akronim dari salah sedikit golok.</p>



<p>“Tolong sampaikan kepada Mas Roni dan Nasrullah ya&#8230; agar mereka waspada tinggi.” Pesannya. “iya&#8230;..” jawabku lemas selemas kaus kaki yang baru kulepas dari kakiku. Saat itu hari-hariku tak tenang, selalu gelisah, dan hanya bisa berdoa. Istriku yang bekerja sebagai hakim&nbsp;&nbsp;PA&nbsp;&nbsp;Lokseumawe mengetahui hal ini entah dari mana. Dua hari sekali&nbsp;&nbsp;kuterima suratnya dengan nada takut dan mmberikan&nbsp;&nbsp;saran yang sama untuk hati-hati, istri Nasrullah dan orang tuanya menyalahkanku dengan&nbsp;&nbsp;tuduhan membawa-bawa Nasrullah dalam perkara ini. Begitu juga orang tua Roni.&nbsp;&nbsp;Sehari, dua hari, seminggu, sebulan, saya berada di rumah hanya hitungan jam. selebihnya pergi untuk sembunyi. Mas Made pun kerap datang menjumpaiku memberi informasi.</p>



<p>Benar atau tidak ancaman itu, akupun tidak tahu. Tapi ikhtiar tetap kujalani. Aku berniat untuk menyusun langkah kembali dan tidak akan mundur tinggalakan&nbsp;&nbsp;misi.&nbsp;&nbsp;Ini perjuangan yang harus kupertahankan demi anak cucuku. Aku yakin ada yang melindungiku di atas sana. Inilah janji dan tekadku</p>



<p>&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;Anehnya, satu minggu, dua minggu, sebulan, dua bulan, enam bulan. Dan entah berapa lama. Gebrakan drum, petik gitar melodi dan bass, tombol piano, vokalis merdu, lampu mercury, gemerlap seribu lampu warna-warni semuanya berirama indah mengiringi tamu berduit dengan tentengan mobil mewah yang berbaris rapi dihalaman&nbsp;&nbsp;diatur oleh para pemuda dengan gambar yang susah dihapus pada tangan dan lehernya. Tampak indah&#8230;yaa&#8230; sungguh tampak indah, indaaah sekali, tak seindah diriku saat lewat dengan GL PRO produksi 1995 dengan jari merah&nbsp;&nbsp;tergigit basah.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Ditulis oleh : Drs. H. Samsul Hadi, M.Si., CBPA., CPRW. Email : samsulhadi0406@gmail.com.</p>



<p>Literasi : karyaliterasisamsulhadi.blogspot.com. Guru MTs N 7 Indramayu. Alamat : Pekandangan, Indramayu</p>
<p>The post <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/09/02/jari-merah-tergigit-basah/">Jari Merah Tergigit Basah</a> appeared first on <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id">MTs N 7 Indramayu</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Kukejar Gunung Semeru</title>
		<link>https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/09/02/kukejar-gunung-semeru/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 02 Sep 2021 00:44:42 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mtsn7indramayu.sch.id/?p=284</guid>

					<description><![CDATA[<p>(Kukenang Ajaran Guru Ngajiku Sepanjang Waktu) (True Story) Setiap kuingat guru ngajiku, tak lupa buru-buru kusampaikan doa penuh</p>
<p>The post <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/09/02/kukejar-gunung-semeru/">Kukejar Gunung Semeru</a> appeared first on <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id">MTs N 7 Indramayu</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>(Kukenang Ajaran Guru Ngajiku Sepanjang Waktu)</p>



<p>(True Story)</p>



<p></p>



<figure class="wp-block-gallery aligncenter columns-1 is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex"><ul class="blocks-gallery-grid"><li class="blocks-gallery-item"><figure><img fetchpriority="high" decoding="async" width="1024" height="1024" src="https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/WhatsApp-Image-2021-09-02-at-07.49.21-1024x1024.jpeg" alt="" data-id="287" data-full-url="https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/WhatsApp-Image-2021-09-02-at-07.49.21.jpeg" data-link="https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/09/02/kukejar-gunung-semeru/whatsapp-image-2021-09-02-at-07-49-21/" class="wp-image-287" srcset="https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/WhatsApp-Image-2021-09-02-at-07.49.21-1024x1024.jpeg 1024w, https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/WhatsApp-Image-2021-09-02-at-07.49.21-300x300.jpeg 300w, https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/WhatsApp-Image-2021-09-02-at-07.49.21-150x150.jpeg 150w, https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/WhatsApp-Image-2021-09-02-at-07.49.21-768x768.jpeg 768w, https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/WhatsApp-Image-2021-09-02-at-07.49.21.jpeg 1032w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure></li></ul></figure>



<p>Setiap kuingat guru ngajiku, tak lupa buru-buru kusampaikan doa penuh ta’dzim kepada almarhum guru ngajiku yang sarat dengan kebaikan, ketulusikhlasan, dan kemuliaan akhlaknya.&nbsp; Saat kumenulis kisah inipun tanganku gemetar dan sungguh, batinku juga menangis, hanya saja aku masih mampu menahan titik air mata ini jatuh. Jika air mata itu pun jatuh akan kubiarkan ikhlas membasahi pipiku. Biarlah semua kan kuanggap sebagai saksi cintaku setia pada almarhum guruku yang sudah puluhan tahun meninggalkanku. Aku yakin seyakin-yakinnya teman seangkatan ngajiku juga jika teringat jasa beliau pasti akan hancur perasaaannya tak jauh berbeda dengan diriku. Tak terkecuali mantan santrinya yang kini menjadi orang penting di nusantara ini, Drs. H. Ahmad Dofiri, M.Si. Kapolda Jawa Barat yang berpangkat bintang dua.&nbsp;</p>



<p>Nama Syamsul Hadi yang aku&nbsp; sandang sebagai identitas resmi ini adalah nama kebanggaanku. Bangga dan istimewa karena namaku adalah pemberian Sang Guru ngajiku . Berdasarkan cerita ayahku pada waktu itu. “De, yang memberi nama&nbsp; kamu itu Kiai H. Harun, pada saat ibumu melahirkan, sebagai saudara dekat, beliau datang dan sebagai penghormatan sekaligus meminta barokahnya, ibumu atas izin ayah, meminta kepada beliau agar memberi nama untuk kamu.” Cerita ayahku. Aku pun menanggapinya biasa-biasa saja pada saat itu, bahkan sebaliknya sedikit ada rasa kecewa&nbsp; mengapa bukan ayah atau ibuku saja yang memeberi namaku.&nbsp;</p>



<p>Bukan hanya nama, ilmu, dan segudang inspirasi lainnya. Khitan&nbsp; diriku pun adalah atas jasa beliau pada Saat aku duduk di kelas 5 SD. Ceritanya masih mudah kuingat, Pukul 12.00 aku pulang sekolah, ibuku tampak senyum-senyum menyambut kedatangnku di kursi teras. “De, Tadi Kang Harun datang atas nama panitia sunatan massal di Masjid Sal Mu’awanah Tegalurung. Bukakankah kamu sudah&nbsp; lama kepingin sunat?” desak ibuku penuh harap. “Iya Mi (akronim bahasa Jawa dari kata Mimi/ibu) Ade mau banget.” Jawabku singkat. “Alhamdulillah…syukur lah kalau begitu.” Puji ibuku kepada Allah SWT. Karena kalau menyelenggarakan sendiri acara sunatan anakanya dalam waktu dekat tentu butuh modal besar.&nbsp; &nbsp;&nbsp;</p>



<p>Pada saat itu aku dan guru ngajiku tinggal di desa yang sama, Desa&nbsp; Tegalurung Kecamatan Balongan Kabupaten Indramayu Jabar. Guru ngajiku Bernama K.H. Harun sepupu dengan ibuku berbeda ibu. Aku adalah anak bungsu dari 7 bersaudara, sedangkan guruku mempunyai&nbsp; 9 anak dua kali melahirkan anak kembar. Aku sepantaran dengan anak beliau Bernama Mohammad Imam Sibawaihi, S.Hum. Begitu dekatnya persahabatanku&nbsp; dengan dia baik di sekolah maupun di rumahnya. Kami hidup dalam kesederhanaan dari penghasilan sawah dan kebun yang kami miliki, begitu juga keadaan ekonomi guruku. Namun terasa hidup dalam kedamaian dan kenikmatan. Keluargaku dan keluarga guruku&nbsp; cukup dihormati karena sama-sama dianggap sebagai kiai.</p>



<p>Sejak aku menginjakkan kaki di kelas satu sekolah dasar, sepertinya aku tidak pernah tidur di rumah, begitu pula teman-temanku seperti: Ahmad Dofiri, Mustaram, Solihin, Suedi, Pandi, dan yang lainnya. Tak kenal hujan, hajatan, atau apapun, kami selalu menginap di mushola Al Misbah miliknya sambil menggali ilmu agama. Hari-hariku juga penuh dengan kegiatan yang sarat manfaat. Tempat yang aku kunjungi selain rumah adalah sekolah, madrasah, dan mushola. Mulai dari berangkat pagi sekolah SD, pukul 13.00 masuk ke Madrasah, sepulang madrasah hanya berselang untuk mandi sore langsung ke Mushola yang berjarak 1 km dari rumah. Di Mushola kegiatan yang aku ikuti adalah jamaah Maghrib, klasikal dan privat Al-Quran, kajian ilmu fiqh bab Pesolatan, bab Najis, Bab Bersuci, dan ilmu Tajwid, setelah Solat Isya kami menghapal nadhoman Fiqh bab soalt, wudhu, dan lain-lain. Pukul 9.30 malam kami bebas dan istirahat. Pukul 3.30 kami dibangunkan oleh Beliau dengan suara yang saaaangat lembut, membangunkan dengan full rasa kasih sayang. Teman kami yang pulas dibangunkan dengan sajadah yang Beliau pegang. Seolah dalam benak beliau para santrinya masih mengantuk dan kecapaian. Kami solat Subuh dan wirid berjamaah, setealah itu ngaji kitab kuning Safinatun Naja hingga matahari terbit, sekira pukul 06.00. kami para santri pulang, meneruskan aktifitasnya masing-masing. Mulai dari mandi, sekolah SD dan Madrasah, seperti itulah kegiatan rutinitas kami para santeri KH. Harun.&nbsp; Ketika aku kelas 2 SMP, ayahku membuat Mushola sendiri. Sejak itulah aku meninggalkan Sebagian kegiatan rutinnya dengan Guruku. Sebelumnya, full nyantri kepada&nbsp; kiaiku yang tak pernah bernada kares keras suaranya.</p>



<p>Bagaimana aku tidak menjadikan Beliau sebagai sosok yang menginspirasiku. Kegiatan kami di Mushoal semuanya dipimpin oleh Kang Haji Harun, anak lelaki pertamanya dan ketiga anak perempuannya masih menggali ilmu&nbsp; di pondok pesantren. Beliaulah yang menjadi&nbsp; Imam solat, ngajar privat Al-Quran, ilmu Tajwid, ilmu fiqh, dan yang lainnya beliaulah yang menghendel, terkecuali klasikal membaca Al-Quran, Beliau mewakilkan kepada santrinya yang dianggap mampu. Kegiatan yang berlangsung bertahun-tahun bahkan puluhan tahun sepeninggalnya aku, beliau terus istiqamah, hidupnya diabdikan untuk beramal soleh, tanpa memungut biaya sepeser pun dari santrinya, namun ikhlas karena Allah semata, bahkan sebaliknya para santri diajak berbuka puasa dan sahur bersama ketika menjelang bulan Ramadlan. Aku sendiri kadang ikut sahur bersama dengan Sang Guruku yang berwajah tampan dengan hidungnya yang mancung, sopan, selalu senyum, sedikit bicara, berkulit putih dan bersih hingga cincin koleksinya jika beliau kenakan terlihat mencolok warnanya karena jemarinya putih, terutama Zamrud birunya yang pernah aku tanyakan kepada ahli warisnya setelah beliau meninggal tahun&nbsp; 1980. Aku menyukai zamrud beliau, meskipun jika kukenakan tetap redup karena jariku yang hitam. Sahurku Bersama Beliau waktu itu, karena bekal yang kubawa direbut oleh semut.&nbsp; Selebihnya kutolak ajakan beliau untuk sahur Bersama, karena aku merasa kasihan dengan keadaan Beliau yang pas-pasan.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Tugas kami para santri kepada Beliau adalah mengisi bak besar untuk mandi dan wudlu kami sendiri, itu pun bukan permintaan Beliau, selama bertahun-tahun tak kudengar ucapan Beliau menyuruh kami untuk menimba air, menyapu halaman, menyapu dan mengepel musholanya. Jadi apa yang kami lakukan semuanya semata-mata keikhlasan dan mengharap berkah dari Sang Guru kami. dan yang kami lakukan adalah tidak karena keterpaksaan. Itulah telepati, empati, atau apalah namanya yang kami dapatkan dari jiwa Sang Pengajar Ngajiku.</p>



<p>Beberapa warisan monumental yang kudaptkan dari beliau dan masih teringat dengan gamblang sampai sekarang adalah Nadhoman berbahasa Jawa tentang “rukun wudlu, batal wudlu, makruh dan sunnah wudlu, rukun solat, batal solat, makruh solat. Dll.</p>



<p>Dua dari beberapa syair/nadhom yang sering kali aku sampaikan dimana pun termasuk saat Solat Duha berjamaah dengan seluruh siswa MTsN 7 Indramayu maupun saat Solat Duhur berjamaah adalah</p>



<p>&nbsp; &nbsp;Fardlu Wudlu</p>



<p>Fardu wudlu&nbsp; ikuu neenem itunganee&nbsp; &nbsp;</p>



<p>Siiji niat anaa ngati panggonane (2x) &nbsp; &nbsp;&nbsp;</p>



<p>Kaping pindo mbasuh raai sampurnane&nbsp; &nbsp; &nbsp;&nbsp;</p>



<p>Ping telune tangan sikut sekarone (2x) &nbsp; &nbsp;&nbsp;</p>



<p>Kaping papat ngusaap seetengahe sirah &nbsp; &nbsp;</p>



<p>Senejana rambut siiji iku esah (2x) &nbsp; &nbsp; &nbsp;</p>



<p>Kaping lima mbasuh taangan karo pisan &nbsp; &nbsp;&nbsp;</p>



<p>Nenem tertib kang artinee rut-urutan&nbsp; (2x)</p>



<p>&nbsp; Batal Wudlu</p>



<p>Batal-batal wudlu iku papat itungane (2x)</p>



<p>Siji metuu saking salah sawijine</p>



<p>Dalan-dalan&nbsp; loro dalan are plan gurine (2x)</p>



<p>Anging ora batal yen meetu maanine&nbsp;</p>



<p>Kaping-kaping loro iku ilange ing akal (2x)</p>



<p>Anging turu ingkang nenep ora batal</p>



<p>Kaping-kaping telu ngemek qubul lan dubure (2x)</p>



<p>Klawan jro tlaapak tangan langka alinge</p>



<p>Kaping-kaping papat senggolan kulit lorone (2x)</p>



<p>Lanang wadon gede lan duudu mahrome.</p>



<p>Tamat</p>



<p></p>



<p>Ditulis oleh : Drs. H. Samsul Hadi, M.Si., CBPA., CPRW. Email : samsulhadi0406@gmail.com.</p>



<p>Literasi : karyaliterasisamsulhadi.blogspot.com. Guru MTs N 7 Indramayu. Alamat : Pekandangan, Indramayu</p>
<p>The post <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/09/02/kukejar-gunung-semeru/">Kukejar Gunung Semeru</a> appeared first on <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id">MTs N 7 Indramayu</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>OTW</title>
		<link>https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/09/01/otw/</link>
					<comments>https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/09/01/otw/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2021 12:49:13 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mtsn7indramayu.sch.id/?p=270</guid>

					<description><![CDATA[<p>Ketika sinar mentari pagi &#160;menyeruak masuk ke kamarku berebut dengan jendela tua yang kubuka. Tiba-tiba ucapan dari Mas</p>
<p>The post <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/09/01/otw/">OTW</a> appeared first on <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id">MTs N 7 Indramayu</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>Ketika sinar mentari pagi &nbsp;menyeruak masuk ke kamarku berebut dengan jendela tua yang kubuka. Tiba-tiba ucapan dari Mas Hadi kemarin kembali teringat, dan itu sangat menggelitik di otak kepalaku. Spontan aku merasa lemas dan terduduk di atas kasur yang selimut dan sepreinya masih tampak acak-acakan. niat untuk merapikan alas tidurku pun tertunda. Tak sadar kuletakkan telapak tangan kananku persis di kening &nbsp;dengan kepala yang sedikit miring, lalu kugerakkan berulang-ulang dengan tekanan hingga rambut kepala bagian atas terurai dan kusut sekusut alas tidur yang sedang kududuki. Pandangan mata kosongku tertuju &nbsp;&nbsp;pada kanvas ukuran 40&#215;60 lukisan potret diriku yang masih setengah jadi. Cukup lama aku terduduk dengan pikiran yang masih bergejolak tak menentu. Kucoba perintahkan otak dan hati untuk berkoordinasi agar jiwa ini damai. Namun belum bisa. Kusuruh kaki untuk berdiri dan melangkah menuju jendela agar mataku melihat silau dan&nbsp; cerianya sinar dan &nbsp;hijaunya dedaunan yang masih&nbsp; diselimuti embun pagi nan segar. namun tetap nol hasinya. Tanpa sengaja, tanganku mengepal kuat bagai batu keras, lantas kugigit-gigit kuku jempolku hingga terlepas dengan sendirinya saat aku tersadar.&nbsp; Satu-satunya jalan kupaksakan untuk bangun menuju bak mandi mengambil air wudlu, benar saja, ada semacam bisikan datang menuntunku, selesai itu aku raih kunci di atas meja dan langsung menstater GL Max produk Jepang tahun 1997 kesayanganku. Kuputuskan pergi ke rumah Wowoh Nasrullah saudaraku yang berjarak enam ratus meter di sebelah barat rumahku. “De&#8230; mau ke mana sepagi ini naik motor, sarapan dulu!” teriak ibuku yang sedari tadi sibuk bekrja dan masak di dapur. “Ade pergi sebentar kok&#8230;simpan saja di meja, nanti aku makan sepulang dari rumah Roni.” Jawabku sambil berjalan menuju honda hijauku. Melesat cepat menuju rumah besar Kang Haji Munawir, MBA. ayahnya Wowoh.</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="alignleft size-large"><img decoding="async" width="1024" height="577" src="https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/halan-halan-1-1024x577.jpg" alt="" class="wp-image-279" srcset="https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/halan-halan-1-1024x577.jpg 1024w, https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/halan-halan-1-300x169.jpg 300w, https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/halan-halan-1-768x433.jpg 768w, https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/halan-halan-1-1536x866.jpg 1536w, https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/halan-halan-1-2048x1154.jpg 2048w" sizes="(max-width: 1024px) 100vw, 1024px" /></figure></div>



<p>“Woh, kita ke Balongan yuuk.. berjemur pagi sambil ngobrol sesuatu di pinggir pantai!” bujukku sembari menyembunyikan maksud yang sebenarnya. Sejurus aku lihat anggukan kepelanya berkali-kali, kening berkerut dan bibir beradu rapat, tanda sikap setuju bercampur ragu. ”Hayuu&#8230;sekarang, Mang Ade?”, tanyanya kepadaku dengan sebutan mang, sama seperti semua orang sedesa tegalurung menyebutku mang Ade, nama asliku &nbsp;Syamsul Hadi mungkin hanya orang tertentu saja yang tahu. &nbsp;“Iya sekarang&#8230;mumpung belum panas betul.” Jawabku cepat karena sudh tidak sabar. Buru-buru Kubonceng dia menuju rumah H. Mughni Labib ayahnya Roni Samsul Bahri di desa Balongan tepatnya di depan perusahaan megah BUMN yang berlambangkan dua kuda laut menghadap bintang. Wowoh dan roni adalah bersepupu, keduanya adalah cucu dari bibiku bernama Hj. Hafsah dan Siti Dawiyah. Kami bertiga aktif dalam sosial dan keagamaan, karena peran orang tua kami pada keagamaan dan pendidikan lumayan sangat ketat, sehingga kehidupan kami banyak diabdikan untuk masyarakat, aku jebolan Fakultas Syari’ah IAIN bandung, Wowoh sarjana Ekonomi UNINUS, sedangkan Roni adalah sarjana PLS dari UNPAT. aku sebagai ketua karang taruna, dan Sekretaris FKKT &nbsp;Kecamatan Balongan. roni sebagai ketua IRMA Al-Muawwanah dan Sie Dakwah BKPRMI Kecamatan Balongan, sedangkan Wowoh adalah pengurus karang taruna dan Manajer Club Sepak bola Persiba kecamatan Balongan.</p>



<p>Kupacu kendaraanku cepat=cepat menempuh jarak 2,5 KM, dalam perjalanan aku terdiam sambil memikirkan redaksi kaliamat apa yang tepat untuk aku sampaikan&nbsp; pada kedua saudaraku. Hanya deru mesin GL Max ku saja yang terdengar dan selebihnya konsentarsi full saat berpapasan dengan mobil-mobil tangkii besar merah putih bermuatan BBM. 5000, 8000, hingga 16.000 liter.</p>



<p>“Kok Tumben Kang Wowoh dan Mang Ade datang sepagi ini, mau pada kemana niih?’ sambut Roni kepadaku dan wowoh yang masih nangkring dengn tangan memegang kunci yang hendak dibuka. “Sengaja mau ke kamu, Ron.” Sahutku cepat &nbsp;sambil turun. “ Ohh&#8230; ya udah yuuk ke rumah!” Ajaknya dengan khas suara berat sambil balik kanan mendahuluiku. Cepat-cepat kuraih tangannya, “Ron, tunggu&#8230;kita ke jondol timur saja yuk!” sanggahku sambil meraih lengan tangan kanannya hingga terduduk di kursi jondol. Sebelum bicara aku menarik nafas dalam-dalam lebih dahulu. Namun karena ini adalah masalah serius aku ciptakan mimik dan tubuhku tanda serius. “Woh, Ron, begini&#8230;saya kemarin sore didatangi Mas Hadi istrinya mak lampir, dia katakan, Pak Letkol TNI Yadi tidak terima atas protes keras dari kami bertiga yang berusaha menutup Discotek yang baru dia buka pada malam Jumat itu.” Wowo dan roni tampak antusias hingga menggeser tempat duduknya berhadapan dengan aku. Wowoh yang sedari tadi memilih banyak diam, kini tampak tegang dan banyak bertanya, “Trus&#8230; apa lagi kata Mas Hadi?” desaknya tak sabar. “Katanya kerugian pada malam itu hingga mencapai&nbsp; 250 juta rupiah. Sore itu sekira&nbsp; pukul 5.30 an para polisi dari mapolsek Balongan dan indramayu yang datang untuk menutup louncing diskoteknya dengan &nbsp;mengatas namakan laporan &nbsp;dari warga emapat &nbsp;desa, Tegalurung, singaraja, suka urip dan balongan.” Paparku dengan suara perlahan tekanan kata yang perlu seperti ucapan mas Hadi. Tamapak kedua tokoh pemuda dihadapanku kini &nbsp;menunjukkan sikap yang tegang bercamur takut, penyesalan, kemarahan, atau yang lainnya. ”Lalu bagimana sikap sang Letkol&#8230;kepada kami?” desak roni makin penasaran. “Saya belum tahu persis, Ron. Yang pasti dia juga memarahi Mas Hadi dan teman-teman dia yang setia dan sebagai kaki tanganya.”. “Kenapa Mas Hadi membocorkan rahasia Letkol kepada kita?”sahut wowoh tak sabar. “Gitu-gitu juga istri Mas Hadi kan Saudara kita dan dia akrab dengan kita sejak lama, jadi&#8230;gak aneh kalau dia juga pro kepada kita, ya kan?” jawabku untuk meyakinkan mereka bahwa kita juga punya mata-mata dari pihak Letkol yang pro kita. “ Naah sekarang bagaimana sikap kita?, kata Roni. “Iya kita harus bagaiman kalau sudah begini?” sahut Wowoh. “Bagaimana pun juga ini ancaman bagi kita Mang ade.” Sela roni. “apa kita musti minta perlindungan keamann dan hukum kepada aprat?” sela wowoh&#8230; dan banyak pertanyyan lain yang belum aku jawab. Aku pun bingung pertanyan siapa dan yang mana yang harus ku jwab. “ pesan&nbsp; mas hadi yang terahir padaku, Mang Ade, Mas Wowo dan Mas Rono tolong hati-hati dan selalu waspada, Karena Pak letkol sepertinya kenal betul dengan kalian bertiga. Terutama usul yang bernada protes keras dari mang ade dan Mas Roni.” Kami bertiga terjebak dalam kebingungn dan kebuntuan berpikir. Karena itu kesimpulan sementara aku smpaikan, “Pokoknya kita harus meningkatkan kewaspadaan tinggi, dan karena kami sudah teridentifikasi oleh letkol yang kemungkinannnya ada dua, yaitu berdamai&nbsp; dan teruskan perjuangnnya. Kalau kita berdamai tentu saja aku khawatir jikia beliau meminta ganti rugi.</p>



<p>. &nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/09/01/otw/">OTW</a> appeared first on <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id">MTs N 7 Indramayu</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/09/01/otw/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tak Di Dalam Kelas, Tak Di Selembar Kertas</title>
		<link>https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/07/23/tak-di-dalam-kelastak-di-selembar-kertas/</link>
					<comments>https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/07/23/tak-di-dalam-kelastak-di-selembar-kertas/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 23 Jul 2021 11:49:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mtsn7indramayu.sch.id/?p=253</guid>

					<description><![CDATA[<p>“Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada senin (2/3/2020) mengumumkan kasus virus corona pertama kali ditemukan di Indonesia dengan 2</p>
<p>The post <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/07/23/tak-di-dalam-kelastak-di-selembar-kertas/">Tak Di Dalam Kelas, Tak Di Selembar Kertas</a> appeared first on <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id">MTs N 7 Indramayu</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p>“Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada senin (2/3/2020) mengumumkan kasus virus corona pertama kali ditemukan di Indonesia dengan 2 jumlah kasus positif.”</p>



<p>Terdengar suara reporter membacakan&nbsp; berita dari televisi swasta nasional.</p>



<p>Aku bergegas ke ruang tengah ingin mengetahui berita selengkapnya.</p>



<p>Kuraih remote kontrol mencari saluran tv lainnya.</p>



<p>Hampir semua siaran tv nasional berisi breaking news tentang kasus Covid-19 pertama di Indonesia itu.</p>



<p>Berdesir dalam hati begitu tahu kebenaran beritanya.</p>



<p>Terucap lirih mengingat Dzat Yang Maha Kuasa,Yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan sambil memohon :</p>



<p>&nbsp;“Ya Allah&#8230;Inna Lillahi Wa Inna Lillahi Roji`un. Selamatkan kami dari penyakit yang berbahaya dan dari segala keburukan.”</p>



<p>Terbayang dalam ingatan bagaimana sejak empat bulan lalu wabah itu menjadikan kota Wuhan di Cina sebagai kota mati yang ditakuti manusia di muka bumi.</p>



<p>“Assalamu Alaikum”</p>



<p>terdengar suamiku mengucapkan salam masuk ke rumah.</p>



<p>“ Wa`alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh” jawabku sambil meraih tangan kanannya.</p>



<p>“Berita apa itu,mi? tanya suamiku sambil rebahan di kursi.</p>



<p>“Bi, ternyata kasus Covid-19 sudah ada di Indonesia” kataku menjelaskan sambil menghidangkan minum untuknya.</p>



<p>”Inna Lillahi wa Inna Lillahi Roji`un&#8230;qadarullah wa ma syaa`a fa`ala” suami berkata lirih dengan kalimat istirja`.</p>



<p>Sampai beberapa hari kemudian semua media sosial menayangkan berita Covid-19 untuk mengedukasi masyarakat agar menjaga kebersihan,meminimalisir interaksi dengan orang lain dan meningkatkan kekebalan (imunitas) tubuh agar tidak terinfeksi virus corona.</p>



<p>*</p>



<p>Dalam perjalanan naik kendaraan umum menuju tempat mengajar kubuka smartphone yang dimasukan dalam tas begitu terdengar panggilan telpon.</p>



<p>Di ujung telpon terdengar ibu pengurus sebuah organisasi wanita tempatku dipercaya mengajarkan ilmu di majelis taklim sebuah komplek perumahan,&nbsp; &nbsp; memberitahukan dengan lirih bahwa karena wabah Covid-19 membahayakan, maka mulai hari senin pekan depan pengajian diliburkan dulu sementara waktu dan akan dimulai kembali pada awal Ramadhan secara online.</p>



<p>Kusetujui dengan lirih pula diiringi ucapan doa keselamatan untuk semua ibu majelis taklim dan keluarganya.</p>



<p>Smartphone masih dalam genggaman, kusempatkan membuka kanal berita media online di google.</p>



<p>“Kementerian Agama akhirnya ikut menerapkan Work From Home (WFH) setelah kasus Covid-19 terus meningkat hingga mencapai 686 orang pada selasa 24 Maret 2020.”</p>



<p>Kubaca berita itu dengan seksama karena ini menyangkut instansi tempatku berdinas.&nbsp;</p>



<p>Muncul kekhawatiran akan nasib anak-anak didik ku yang sebentar lagi menempuh Ujian Madrasah.</p>



<p>Mengingat ada materi pelajaran yang belum tuntas disampaikan.</p>



<p>Mengingat akan tanggung jawab menghantarkan mereka meraih kelulusan di akhir tahun pelajaran.</p>



<p>“Menteri Agama Fachrul Razi mewajibkan semua ASN baik di Kementerian maupun lembaga di bawah Kemenag bekerja di rumah mulai Rabu,25 Maret 2020”</p>



<p>tertulis pengumuman resmi di grup Humas madrasah tempatku berdinas .</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="alignright size-full is-resized"><img decoding="async" src="https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/shutterstock-449285917_1500713030.jpg" alt="" class="wp-image-255" width="413" height="273" srcset="https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/shutterstock-449285917_1500713030.jpg 1000w, https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/shutterstock-449285917_1500713030-300x199.jpg 300w, https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/shutterstock-449285917_1500713030-768x510.jpg 768w" sizes="(max-width: 413px) 100vw, 413px" /></figure></div>



<p>“Anak-anak 8H yang dirahmati Allah..</p>



<p>ibu sampaikan pengumuman resmi dari madrasah.</p>



<p>Bahwa mulai tanggal 25 Maret 2020 Kegiatan Belajar Mengajar dilaksanakan secara online atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).</p>



<p>Oleh karena itu,ibu meminta kepada semua siswa kelas 8H agar memiliki WhatsApp untuk komunikasi selama PJJ.”</p>



<p>Kutulis pengumuman di WA grup kelas.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>“Waalaikumus salam. Kenapa online,bu?” tanya Gita muridku yang pintar.</p>



<p>“Waalaikumus salam.berarti kita ora mangkat sekolah,bu?” tanya Rasya si rambut ikal.</p>



<p>“Bu,baka kita beli due hp dewek tapi pake hape paman,priben?”</p>



<p>si Fahri menimpali</p>



<p>“Anak-anak, ibu akan umumkan lagi tentang jadwal PJJ setelah mendapatkan jadwal resminya dari sekolah.</p>



<p>Ibu ingatkan selama kalian belajar di rumah, jangan lupa shalat lima waktu, shalat dhuha, membaca al Quran, membantu orang tua dan menjaga kesehatan dengan mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak dan memakai masker.”</p>



<p>Kuakhiri komunikasi sebagai wali kelas dengan bimbingan kebiasaan baik untuk anak-anak didik.</p>



<p>Terdengar bunyi dering ponsel di meja ku.</p>



<p>“Kepada bapak dan ibu guru yang mengajar di kelas 9 dimohon untuk membuat naskah soal UM bentuk PG sebanyak 25 soal dalam format word”</p>



<p>wakil kepala madrasah bidang kurikulum menugaskan melalui grup humas madrasah.</p>



<p>“Tugas lembur akhir tahun seorang pendidik sudah dimulai”</p>



<div class="wp-block-image"><figure class="alignleft size-large is-resized"><img loading="lazy" decoding="async" src="https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/290901114-1024x699.jpg" alt="" class="wp-image-256" width="364" height="248" srcset="https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/290901114-1024x699.jpg 1024w, https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/290901114-300x205.jpg 300w, https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/290901114-768x524.jpg 768w, https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/290901114-1536x1048.jpg 1536w, https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/290901114-2048x1398.jpg 2048w" sizes="(max-width: 364px) 100vw, 364px" /></figure></div>



<p>gumamku dalam hati sambil membuka file-file soal ujian.</p>



<p>Tahun pertama Ujian Madrasah secara online dilaksanakan dengan baik walaupun dalam bayang-bayang kekhawatiran dampak buruk Covid-19.</p>



<p>Sampai akhir tahun pelajaran 2019/2020 PJJ dengan segala keterbatasan waktu,media dan output pembejaran bisa terlaksana dengan penuh perjuangan antara guru,siswa dan orang tua.</p>



<p>*</p>



<p>“Diberitahukan kepada yang terhormat orang tua santri PPTQ Al Hikmah Putri bahwa sehubungan dengan meningkatnya kasus Covid-19, maka yayasan memutuskan tidak ada perpulangan santri pada liburan semester ini.”</p>



<p>terbaca jelas pengumuman dari yayasan pesantren tempat putri-putriku menuntut ilmu di luar kota dari grup wali santri.</p>



<p>Ada basah di pelupuk mata.</p>



<p>Berharap liburan sekolah bisa bertemu dan berkumpul dengan ketiga putriku di rumah setelah enam bulan tak bertemu.Tapi Allah tak berkehendak karena pandemi yang membahayakan kesehatan diri. Dan penduduk negeri.</p>



<p>“Ummi,teteh padahal pengen liburan ke Bandung.Eh,malah ga libur.Tapi ga apa-apa lah.semoga akhir tahun bisa ke Bandung ketemu nenek” putri sulungku merajuk di ujung telpon.</p>



<p>“ Teteh, banyak berdoa saja.Teteh dan teman-teman sedang menjaga ayat-ayat Allah. Semoga Allah SWT menjaga dan menyelamatkan kita semua dari wabah ini.In syaa Allah nanti jika sudah aman pasti bisa liburan di Bandung.”</p>



<p>kataku menghiburnya</p>



<p>*</p>



<p>“Assalamu Alaikum ibu.mau tanya besok berangkat ke sekolah memakai seragam apa?”</p>



<p>Mar`atus Shalihah kelas 7B japri&nbsp; malam hari .</p>



<p>“Bu,besok berangkat enggak?” si Ega bertanya di grup kelas.</p>



<p>“Iya bu,berangkat enggak” tanya Farhan meminta kejelasan</p>



<p>“Kita mah keder baka belajar online kuh.enakan belajar ning kelas”</p>



<p>sambil tersenyum kubaca chat Chelsea dengan memasang emoticon</p>



<p>“Bener.enakan belajar dewek di kelas kaya ning SD.” timpal Handika menyetujui.</p>



<p>Setiap hari awal tahun pelajaran baru 2020/2021 banyak chat wa&nbsp; siswa-siswi kelas 7 yang ramai masuk di grup kelas dan japri.</p>



<p>Mereka murid baru yang bertanya tentang ini dan itu.</p>



<p>Dijelaskan sekali dua kali tentang pembelajaran jarak jauh, masih bertanya tiga empat kali.&nbsp;</p>



<p>Hal ini secara psikis membuat guru merasa lelah dan pusing dengan kebiasaan baru pembelajaran jarak jauh di masa pandemi ini.</p>



<p>Pandemi Covid-19 memaksa masyarakat dunia mendefinisikan makna hidup, tujuan pembelajaran dan hakikat kemanusiaan.</p>



<p>Pemberlakuan kebijakan physical distancing (menjaga jarak fisik) yang kemudian menjadi dasar pelaksanaan belajar dari rumah dengan pemanfaatan teknologi informasi, telah membuat beban bagi&nbsp; pendidik,siswa,orang tua bahkan semua orang dalam rumah.</p>



<p>*&nbsp;</p>



<p>“Assalamu alaikum.ibu mohon maaf mengganggu.mau minta link mata pelajaran Seni Budaya dan Fiqh yang belum dishare ibu di grup kelas!”</p>



<p>kubuka chat Nindya kelas 9A.</p>



<p>“Ibu-ibu sudah pernah mengajar via zoom meeting,belum?”</p>



<p>tanya bu Aminah di grup khusus ibu-ibu guru</p>



<p>“Belum bu.Room zoom nya sudah punya sejak tahun lalu.Tapi link nya belum dishare ke anak-anak.In syaa Allah rencana pekan depan mengajar via zoom.”</p>



<p>balasku bersemangat</p>



<p>“Ibu-ibu gimana sih, cara membuat zoom itu?” tanya bu Irma</p>



<p>“ Iya&#8230;tolong dong orang tua ajarin.” timpal bu Ulya guru senior kami</p>



<p>&nbsp;“ Aduh keder temen,ya. ngajar zaman kien.Guru banyak tugas ini itu” bu Tanti mengeluh</p>



<p>“Jangan keder,ibu.Kita disuruh banyak belajar hal baru.Karena kita ternyata jadi merasa belum banyak ilmu.</p>



<p>Yuk ibu-ibu kita beradaptasi kebiasaan baru dalam mengajar.</p>



<p>Semangat menuntut ilmu lagi”</p>



<p>kataku menyemangati diri dan ibu-ibu guru lainnya.</p>



<p>*</p>



<p>Dua tahun pandemi melanda negeri tanpa tahu kapan berlalu.</p>



<p>Memaksa kita untuk melihat kenyataan bahwa dunia sedang berubah.</p>



<p>Perubahan itu mengharuskan kita untuk bersiap diri, merespon dengan sikap dan belajar hal-hal baru.</p>



<p>Sebagai orang beriman pasti memahami hakikat musibah.</p>



<p>Banyak hikmah pembelajaran dalam kehidupan yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya dari pandemi Covid-19 ini..</p>



<p>Teknologi informasi yang berkembang sejak&nbsp; pandemi, menjadi ilmu baru bagi guru bahwa pembelajaran tidak harus di dalam kelas dan tidak harus berupa tugas di selembar kertas.</p>



<p>Semua guru harus bisa mengajar jarak jauh dengan menggunakan teknologi.</p>



<p>Sehingga peningkatan kompetensi pendidik untuk menggunakan aplikasi pembelajaran jarak jauh menjadi mutlak dilakukan.</p>



<p>Semoga Allah Yang Maha Kuasa berkehendak dengan segera menghilangkan wabah Covid-19 dari muka bumi.</p>



<p>Sehingga pandemi berlalu, guru dan siswa bisa bertemu.</p>



<p>Petemuan tatap muka sudah dirindu.</p>



<p></p>



<p>Indramayu,22 Juli 2021/12 Dzulhijjah 1442&nbsp;</p>



<p><em><strong>Qurotul Aeni,S.Ag,</strong> guru Al Quran Hadis di MTsN 7 Indramayu- Jawa Barat</em></p>
<p>The post <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/07/23/tak-di-dalam-kelastak-di-selembar-kertas/">Tak Di Dalam Kelas, Tak Di Selembar Kertas</a> appeared first on <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id">MTs N 7 Indramayu</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/07/23/tak-di-dalam-kelastak-di-selembar-kertas/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>HIDUP COVID’19</title>
		<link>https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/07/21/hidup-covid19/</link>
					<comments>https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/07/21/hidup-covid19/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[Admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2021 06:26:35 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://mtsn7indramayu.sch.id/?p=220</guid>

					<description><![CDATA[<p>(Hikmah Indah Dibalik Ujian Pandemi Covid’19) (Cerpen Teks Deskrpsi Subjektif) HIDUP COVID’19 Kami&#160; para&#160; “Pahlawan Tanpa&#160; Tanda Jasa”</p>
<p>The post <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/07/21/hidup-covid19/">HIDUP COVID’19</a> appeared first on <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id">MTs N 7 Indramayu</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>(Hikmah Indah Dibalik Ujian Pandemi Covid’19)</strong></p>



<p class="has-text-align-center">(Cerpen Teks Deskrpsi Subjektif)</p>



<p class="has-text-align-center"><strong>HIDUP COVID’19</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kami&nbsp; para&nbsp; “Pahlawan Tanpa&nbsp; Tanda Jasa”</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kan&nbsp; mengabdi&nbsp; tuk cerdaskan&nbsp; bangsa</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kalau pun situasi&nbsp; berubah&nbsp; berbeda</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kun fayakun-Nya Kau yang punya</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Covid’19&nbsp; mengubah&nbsp; segalanya</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Covid’19 pandemi&nbsp; berbahaya</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kudekatkan diri kepada-Nya</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kupanjatkan lewat doa-doa</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kupasrahkan jiwa dan raga</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kupasrahkan milik nan ada&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kuharap hikmah&nbsp; dibaliknya</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Karuniai kami mahluk dunia</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Karena iman kuyakin Dia ada</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kuasanya meliputi&nbsp; alam raya</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kudrat Iradatnya Prima Kausa</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kami hanya mahluk&nbsp; causalita</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kuasanya &nbsp; sebatas &nbsp; meminta&nbsp;</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kusampaikan&nbsp; hajat padanya</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kupintakan maslahat bangsa&nbsp;</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kau&nbsp; hentikan mara bahaya</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kau&nbsp; musnahkan&nbsp; corona</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kau gantikan sejahtera</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kau ijabahi&nbsp; doa kita</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kau memberi kita&nbsp;</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>K&nbsp; a &nbsp; r&nbsp; u n&nbsp; i&nbsp; a</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>K u n . . .</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kun ..</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kabulkan doa ini wahai Penguasa</strong></p>



<p class="has-text-align-center"><strong>Kasihani kami yang lelah meminta</strong></p>



<div class="wp-block-image"><figure class="aligncenter size-full"><img loading="lazy" decoding="async" width="679" height="380" src="https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/covid-1.png" alt="" class="wp-image-221" srcset="https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/covid-1.png 679w, https://mtsn7indramayu.sch.id/wp-content/uploads/2021/09/covid-1-300x168.png 300w" sizes="(max-width: 679px) 100vw, 679px" /><figcaption><em>ilustrasi Covid-19</em></figcaption></figure></div>



<p>Kutorehkan kata-kata, kurangkai baris demi baris, kususun menjadi&nbsp; kaliamt puitis menyatu dalam tipografi gelas berdiri tegak dan berbantalkan alas. Kunamai “puisi” jika disebut layak dan pantas. Lalu Kuberi judul “Hidup Covid’19. Bukan lantas aku sebagai pendukung covid sembilan belas, Juga bukan pembenci covid sembilan belas, namun hanya ingin memberi pernyataan sekilas&nbsp; maksud&nbsp; dibalik covid sembilan belas.&nbsp;</p>



<p>Masih pantaskah diberi nama puisi jika penyusunnya tak mengerti seni. Masih pantaskah diberi nama puisi jika penyusunnya belum tahu hakikat diri, masih pantaskah diberi nama puisi jika penyusunnya masih jauh dengan Ilahi meski&nbsp; penyusunnya&nbsp; telah menulis dengan&nbsp; segenap isi hati pada malam hari yang sepi bertemankan tetes air mata yang suci.&nbsp;</p>



<p>Sengaja kubuat&nbsp; Puisi ini&nbsp; dengan sepenuh hati agar dapat mengilhami diri untuk terus-menerus merenungi kuasa Ilahi. Puisi ini yang membangunkan lelap tidurku dari pagi hingga malam hari,&nbsp; dari hanya hayal dan&nbsp; mimpi-mimpi indah selama ini. Puisi ini yang mendorong semangat diri untuk berbuat sesuatu agar berarti. Puisi ini yang mampu mengubah kesadaran hati menuju hakikat hidup di muka bumi. Puisi ini yang mampu mengubah kebiasaan lama dengan yang baru,&nbsp; mendorong semangat hingga mampu memberi manfaat. Puisi ini juga yang menjadikan namaku dikenal orang-orang baru di segala penjuru.&nbsp;</p>



<p>Ketika sinar Sang Mentari terbit, terangnya menusuk relung kalbu. Kubuka jendela hati dan pikiranku menembus cakrawala di langit yang biru. Ketika sinar Sang Rembulan enggan berbagi, gelapnya kuganti dengan lampu. Kupakai kacamata untuk membaca diri Bersama gelapnya hari. Ketika malam makin gulita, hitamnya kuganti dengan sinaran Ilahi. Kuraih sajadah dan kubasahi tasbih sembari berpasrah diri. Ketika sang waktu datang menyapa, kuganti menitnya dengan jaga. Kuraih pena dan alat apa-apa untuk berbagi dengan sesama. Ketika semua silih berganti, hari, bulan, dan tahun pun berganti,&nbsp; kugenggam&nbsp; tongkat kuat-kuat untuk meniti jalan sambil berpasrah diri pada Ilahi.</p>



<p>“Robbi zidnaa ‘ilman naafi’an war zuqnaa halaalan toyyiban”. Doa ini yang selalu kupanjatkan dan hampir tidak pernah terlupakan, dengan harapan ilmu dan rizkiku Allah cukupkan. “Hidup adalah Pengabdian” adalah moto hidupku, penyemangat yang mendorong tujuan dengan harapan meraih banyak hal untuk kubagikan atas nama Tuhan. Dua harapan tersebut mendorong kuat bagaikan buldoser sekarat agar hidupku ini lebih bermanfaat. Namun aku sadar akan adanya Qadar. Mana keinginan yang lahir dari nafsu terumbar dan mana keinginan yang didasari sabar. Beruntung diri ini masih memiliki akal yang jembar.</p>



<p>Karunia Allah pada mahluknya begitu luas. Tidak ada satu pun doa hamba-Nya yang lepas seakan sia-sia dan terhempas. Kasih Sayangnya begitu luas. Tak diminta pun Dia membalas. Rizki yang Allah berikan begitu banyak dan tidak akan berhenti hingga hambanya masuk ke liang lahat.</p>



<p>Doa yang telah lama aku panjatkan rupanya spontan Tuhan kabulkan. Doa yang sudah lama aku panjatkan kubarengi dengan tindakan rupanya Tuhan merasa kasihan. Begitu terasanya rizki yang aku rasakan, hingga tak mampu dibilang dengan hitungan apalagi hapalan.</p>



<p>Tuhan membukakanku jalan pikiran, memberiku banyak kesempatan, leluasa member pilihan. Jalan pikiran yang sebelumnya berupa angan-angan diubahnya dengan tindakan dan berbuatan mengikuti jalan kebenaran. Tuhan memberiku banyak kesempatan, yang sebelumnya diliputi kesibukan seakan tiada lagi kesempatan, diubahnya menjadi waktu luang membimbingnya agar kesempatan tak terbuang. Tuhan memberiku pilihan yang sebelumnya terkandang diubahnya menjadi banyak kebebaskan untuk menentukan kemerdekaan berupa peluang untuk kita perjuangkan, membimbingnya menuju kemenangan dan kebahagian sungguhan.</p>



<p>Jalan pikiran, kesempatan, dan pilihan yang Tuhan berikan adalah sejalan dengan peraturan lockdown wabah covid’19, karena alasan untuk mengutamakan Kesehatan dan meminimalisir korban agar tidak lagi berjatuhan. Putusan peraturan untuk melakukan pekerjaan di rumah bukan di kantoran. Oleh karena ketidaklaziman zaman akibat merebaknya wabah covid’19 tahun 2020 yang makin mengganas sehingga awal bulan Maret lockdown diundangkan.</p>



<p>Lockdown akibat covid,19 yang jelas-jelas ada campur tangan Tuhan menjadikan banyak orang kebingungan, ketidakpastian, sebagiannya lagi menganggap sebuah ketimpangan, penyiksaan, dan rekayasa yang tidak keberpihakan. Masyarakat dari berbagai kalangan resah dalam kebimbangan, keluh kesah bermunculan, sumpah serapah dibiarkan, pemerintah tersudutkan, Tuhanpun seakan dinistakan karena tempat ibadahnya tutup tidak boleh digunakan.</p>



<p>Lockdown bagi sebagian yang lain adalah sebagai suatu ujian&nbsp; yang menuntun hambanya untuk menerima pelajaran agar mampu bertahan yang dibarengi dengan kesabaran. Sikap kepasrahan sebagai hamba yang tidak memiliki kekuatan, kekuasaan, dan kekayaan, menumbuhkan sikap Ketawakkalan, tunduk patuh atas ketentuan yang Tuhan taqdirkan, menghilangkan sifat kepongahan dan kesombongan. Aturan kita tegakkan, saran pemerintah kita jalankan, Kesehatan diri dan keturunan kita perjuangkan, harta benda kita sumbangkan demi kemaslahatan, agama kita tegakkan, itulah tujuan syariat Islam bagi hambanya yang beriman.</p>



<p>Lockdown bagiku adalah suatu ujian, Latihan, dan pelajaran. Diri ini diuji apakah masih memiliki ketaqwaan. Diri ini dihadapkan pada suatu kenyataan dan bukan lari dari kenyataan. Agar kita mampu mengatasi semua ujian melalui Latihan demi Latihan. Diri ini juga mendapatkan pelajaran dari semua ujian yang Tuhan timpakan. Agar keimanan kita mampu bertahan atas cobaan-cobaan diberbagai medan kehidupan. Karena aku yakin dibalik semua cobaan dan ujian, tersimpan suatu maksud baik Tuhan.</p>



<p>Lockdown atau bukan, normal atau tidak wajar, kehidupan dimuka bumi ini adalah sudah ditaqdirkan. Kita pasrah dan tawakkal setelah berikhtiar. Karena kita tidak bisa menghindarnya dengan cara apapun. Perbanyak doa dan pertaubatan, ikhtiar wajib kita lakukan.&nbsp;</p>



<p>Itulah pergulatan alam pikiranku selama hampir dua tahun. Covid’19 merebak dan melanda dunia. Namun dibalik musibah dahsyat aku yakin bukan suatu penyiksaan. &nbsp; Tuhan pasti memberikan bebagai macam hikmah indah dibalik semua ujian. “Dibalik Musibah Pasti ada Hikmah”. Kata bijak ini dapat kita terapkan pada berbagai kedaan, termasuk musibah mendunia saat&nbsp; ini. Ini mengisyaratkan pada kita yakinilah bahwa akan ada hikmah di balik musibah pandemi covid’19 hingga saat ini belum ada kepastian yang jelas, semoga dengan diterapkannya program PPKM musibah akan segera berlalu.</p>



<p>Hikmah besar bahkan anugerah besar yang aku rasakan adalah bertambahnya ilmu pengetahuan saat WFH diberlakukan. Ilmu pengetahuan pada bidang IT yang erat kaitannya dengan tugas diri sebagai guru dalam proses KBM di MTsN 7 Indramayu, penggunaan IT untuk tujuan lain dalam menggali ilmu pengetahuan tambahan yang berkaitan dengan profesi maupun ilmu-ilmu terapan melalui dunia medsos. Dapat memperluas perkenalan dengan para pakar dan ilmuan besar dengan disiplin keilmuan yang berbeda, yang sebelumnya tidak pernah kudapatkankan, kurasakan, dan kunikmati. Aku manfaatkan waktu dari sisa-sisa tugas kusebagai ASN dengan mengikuti puluhan pelatihan, Kulwa, Bincang Inspiratif, dan yang lainnya. Seperti: 1). Kelas Tarkibi 1 # Ramadlan ( 23 April 2020), 2). DISKUSI TARKIBI 1 (24 April 2020), 3). SEMON 6 JUNI # 6 ( 27 Mei 2020), 4). Kelas Tarkibi 1 # Ramadlan (23 April), 5). Writter Class ke 1, 2, dan 3, (11 Mei 2020), 6). GRUP IKHWAN (25) (program nahwu sorof, 11 Juni 2020), 7). #18 TOEFL? SIAPA TAKUT! (23 Mei 2020), 8). Seminar KMM 14 Mei 2020 (2) (10 Mei 2020), 9). Bincang Inspiratif Ekonomi Syariah # Kairo (5 April 2020), 10). SEMINAR ONLINE ESSAY 3 ( 3 Juni 2020), 11). NgobrolInspiratif# 1 Grp 2 (23 Juni 2020), 12). Inspirasi 2020 (3) (20 Mei 2020), 13). Diskusi Online #2ndGrup (15 Mei 2020), 14). SEMNASONLINE MARSS7 (13) (2 Juni 2020), 15). BBO AP #2 (29 Juni 2020), 16). SEMINAR ONLINE MBP 6 (22 Mei 2020), 17). Sekolah Menulis A6 Grup 1 (30 Juni 2020), 18). Sahabat Sobat Inspirasi#5 (11 Mei 2020), 19). Aljabar Desain#2 (Ikhwan) (15 Juni 2020), 20).&nbsp; #POJOK ILMIAH 6 (14 Juni 2020), 21). SEMINAR LITERASI KITA (25 Mei 2020), 22). Ngaji Jurumiyah Online (18 juni 2020), 23). SEMON MIB #20 (13 Mei 2020), 24). SHARING KEPENULISAN 4 (20 Mei 2020), 25). KULWA TAHFIDZ #005 (23 Mei 2020), 26). ARABIC IKHWAN A&nbsp; (14 Juni 2020), 27). AMWAY (1 Juli 2020), 28). Seminar RPI SUMUT (20 Februari 2021), 29). Peserta Webinar YRI 4 (C) (6 Maret 2021), 30). Candidate Certified Diklat (Sekarang), 31). INFOKUPEDIA.ID – 29 (Masih Berlangsung), 32). PELATIHAN DARING PBI UPI (14 Juli – 18 Agustus 2021), 33). INDONESIA MENGAJI (Masih Berjalan), 34). KBK 07 (24 pertemuan, Selasa dan Sabtu) (baru13 pertemuan), 35). Guru Madrasah Menulis (19 Juli 2021), Pendidik Punya Karya (PPK) Batch#02 (24-25 Juli 2021).</p>



<p>Dari semua diklat, daring, dan Kulwa&nbsp; yang aku ikuti beberapa diantaranya berjenjang dua, tiga, sampai 4 pertemuan dengan tema yang berbeda, seperti BINCANG KEBANGSAAN NU Orsat Tunisia (4 sertifikat). Semuanya aku ikuti dengan baik meskipun ada beberapa kegiatan yang bentrok karena kesibukan atau tugas lain yang lebih penting.&nbsp; seperti saat bepergian, begitu juga saat mengerjakan pekerjaan rutin di rumah. Sampai saat ini sertifikat yang sudah aku print baru sebagian kurang lebih 30 lembar. Yang lain masih berada pada dokumen HP ku. Bisa dibayangkan, jika satu program diikuti oleh minimal 100 peserta saja, maka tentunya sangat banyak jika 35 pelatihannya.&nbsp; sedangkan pada kenyataannya hampir setiap program, panitia menghendaki lebih dari 200 an peserta belum lagi apabila pelatihan tersebut diminati para peserta, maka panitia membuka grup 1, 2, 3, atau lebih.</p>



<p>&nbsp;Ada hal yang menantang dari sekian banyak pelatihan yang aku ikuti, yaitu tugas mandiri, baik tugas biasa maupun tugas yang dilombakan dengan menyertakan iming-imimg hadiah berupa tanda penghargaan maupun materi, seperti barang atau uang.</p>



<p>Satu pengalaman yang tak mungkin aku lupakan adalah pada suatu sore di bulan suci Ramadlan tahun 2020 lalu, aku baca telegram bertuliskan,&nbsp; ”Selamat ya, Pak Samsul Hadi, anda juara 1 dalam penulisan resume “Bincang Hardiknas”. Seminar Internasional online ICMI Kontribusi Orsat Cairo Mesir. Dengan tema “Pelajar Islam Untuk Masa Depan Pendidikan Indonesia”.&nbsp; Resume yang aku beri judul “Sejarah Pendidikan di Indonesia”. Rupanya memenuhi syarat bagi penilai. Sehingga aku dapat sertifikat dengan nomor: 79/S/BI/V/2020.&nbsp; Pengumuman ini sungguh merupakan suatu anugerah yang sangat berarti bagiku. Memperolah ilmu pengetahuan dari berbagai diklat yang aku ikuti saja sudah merupakan kebahagiaan yang luar biasa, belum lagi dapat pertemanan melalui perkenalan dengan sesama teman dilain daerah dan negara, baik mereka adalah sebagai pelajar, mahasiswa, pengajar, pemateri, pakar ilmu pengetahuan dan keterampilan. Baik yang berdomisili di dalam negeri maupun lauar negeri, seprti Kairo, Tunisia, Jepang, Saudi Arabia, dan Malaysia. Betapa tidak membuat aku senang dapat berkenalalan dengan orang-orang baik, soleh-solehah, saling memberi, dan menginspirasi satu sama lain.&nbsp;&nbsp;</p>



<p>Habar yang&nbsp; menggembirakan atas prestasiku sebagai juara 1&nbsp; yang kuperoleh lewat medsos adalah kenangan monumental yang tidak bisa aku lupakan. Baik tanda penghargaannya, sejumlah uangnya terlebih lagi itu adalah momen langka dimana aku dapat teman dari 4 grup masing-masing grup dikuti oelh 250 peserta. yang sebagian pesertanya adalah dari luar negeri. Hal lain yang tidak kalah membahagiakannya adalah aku dapat berkenalan dengan orang besar dan hebat, ilmu yang sangat bermanfaat,&nbsp; pertanyaanku sebagai orang kecil beliau kupas tuntas. Beliau adalah ulama dan pakar pendidikan. mantan Menteri pendidikan Prof. DR. Bambang Sudibyo, MBA., CA. Saat itu beliau menjabat sebagi ketua BAZNAS RI.&nbsp;</p>



<p>Itulah sekelumit pengalam berharga yang aku dapatkan dari upaya dan harapan adanya hikmah besar atas musibah yang melanda dunia Pandemi Covid’19. yang mungkin anggapan orang adalah penjara dunia yang menyakitkan, namun bagiku penjara ini kujadikan kesempatan untuk&nbsp; berbuat sesuatu dengan menyandarkan diri, tunduk dan pasrah atas ketentuan Ilahi Robbi.&nbsp;</p>



<p>Tulisan ini&nbsp; kiranya tidak salah jika aku beri judul “HIDUP COVID’19” yang menupakan singkatan dari “ Hikmah Indah Dibalik Ujian Pandemi Covid’!9”. harapanku semoga tulisan yang jauh dari sempurna ini dapat menginspirasi pembaca.</p>



<p>Tamat</p>



<p><em>Ditulis oleh: Drs. H. SamsulHadi, M.Si,.&nbsp; guru pada MTsN 7 Indramayu.<br>Alamat rumah: Jl. Cendana 3 No 23, B5. RT 33/09 Griya Asri !, desa pekandangan Kec/Kab. Indramayu, Jabar.</em></p>
<p>The post <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/07/21/hidup-covid19/">HIDUP COVID’19</a> appeared first on <a href="https://mtsn7indramayu.sch.id">MTs N 7 Indramayu</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://mtsn7indramayu.sch.id/2021/07/21/hidup-covid19/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
